Inilah Kisah Inspiratif di Balik Kesuksesan Keripik Dero Khas Pati

Posted on 12 Agu 2017


Inilah Kisah Inspiratif di Balik Kesuksesan Keripik Dero Khas Pati

Ditengah lemahnya perekonomian keluarga, hanya ungkapan rasa syukur ketika sekilo ikan yang digoreng justru membuka peluang besar. Keripik ikan itulah yang kini dikembangkan Sa'adah, 53, bersama para ibu Paguyuban Putri Sejahtera, hingga menyuplai ke berbagai kota.

TAYU - Jeda satu rumah di sebelah barat Masjid Baitus Safa'ah, seorang perempuan paruh baya membuka pintu rumah dengan senyumnya yang ramah. Dialah Sa'adah, pangkal tolak berkembangnya keripik ikan dero yang kini ditekuni para ibu di Desa Sambiroto, Tayu. Warga RT 01 RW 01 itu menyambut hangat ketika Humas Setda Pati mendatangi rumahnya, tadi siang. 

Beberapa langkah sebelum masuk rumah, tercium bau menggoda yang ternyata berasal dari sebuah rumah tepat di depan rumah Sa'adah. Di sanalah proses pembuatan keripik ikan dero berlangsung. Usai mengantarkan untuk melihat secara langsung proses penggorengan keripik dero, ibu 9 anak itu bersedia membagikan kisahnya. 

"Awalnya tahun 2006," ungkapnya memulai cerita. Melemahnya perekonomian keluarga lantaran empat dari sembilan anaknya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, menjadi pergolakan rumit untuk dipecahkan. Terlebih penghasilan suami, Harnoto yang bekerja di TPI Juwana juga lagi sepi. 

Namun kegigihan tekad akhirnya menemukan jalan. Bermula dari keinginan anak pertama, Syifa Zainuddin, yang ingin melakukan usaha, Sa'adah kemudian mencoba melakukan sesuatu. "Saya beli ikan sekilo, saya goreng, saya bungkus kemudian dijual oleh anak saya keliling pakai sepeda onthel," ungkap Sa'adah.

Tak disangka, ikan goreng dibungkus plastik kecil itu langsung ludes terjual dalam waktu kurang dari satu jam. Hal itu membuat wanita yang sebelumnya berprofesi sebagai penjahit itu senang. Ikan goreng itu akhirnya kembali dibuat untuk kemudian dijajakan ke berbagai wilayah sekitar desa. "Dari itulah, akhirnya saya dan anak saya semangat. Jualnya itu di Pasar Tayu, (desa) Jepat, sampai Bondol (Desa Sendangrejo)," ujarnya. 

Namun di tengah bergairahnya menjual ikan goreng itu, terganjal tidak adanya modal. Melihat pangsa pasar yang bagus, Sa'adah akhirnya memberanikan diri untuk meminjam uang kepada seorang kerabat. "Saat itu saya pinjam Rp 100 ribu. Uang itulah yang saya gunakan untuk belanja ikan dan segala ubarampenya," jelasnya. 

Pembelian yang semula 1 Kg ikan akhirnya perlahan meningkat. Bahkan permintaan ikan goreng atau yang tren dikenal dengan ikan krispi karena tingkat kegaringannya, juga semakin besar. Bahkan hingga berdatangan ke rumahnya. Hal itu juga didukung dengan peran anak-anaknya yang kuliah sambil berjualan ikan krispi. (fn/FN/MK)